Yaum Ma'al Al Qur'an

Hari libur buat santri bukanlah menjadi hari berleha-leha dan bermalas-malasan. Jum’at – Ahad, hari libur nasional saat itu santri DS mengisinya dengan Yaum Ma’al Qur’an. Berlokasi di SDIT Nurul Islam, sebuah sekolah alam yang sangat recommended untuk agenda ruhiyah tiga hari ke depan. Konsep sekolah yang terbuka dengan nuansa kesejukan alam dan pepohonan hijau yang mengitarinya semakin mendukung rangkaian kegiatan tersebut berjalan dengan kondusif. Agenda tiga hari tersebut dimaksudkan sebagai satu ikhtiar agar santri lebih dekat dengan Al-Qur’an. 


    Mungkin banyak dari kita yang masih bertanya-tanya, apa sih Yaum Ma’al Qur’an itu? kegiatannya ngapain aja? Yaum Ma’al Qur’an yaitu agenda seharian bersama qur’an. Acaranya diisi dengan tilawah, setoran tahsin, hafalan baik muroja’ah (mengulang) maupun ziyadah (menambah) serta ada sharing bersama alumni yang sudah lama berkecimpung dalam dunia tahfidz. Setoran tahsin dan hafalan tersebut disetorkan kepada musyrifah atau pemandu dari setiap kelompok melalui laporan pencapaian dalam lembar mutaba’ah. 


    Hampir seluruh santri Darush Shalihat adalah aktivis dengan kesibukan yang padat di kampusnya. Rutinitas mereka tidak hanya kuliah, praktikum, tugas-tugas, kerja praktek, atau skripsi. Selain itu dari kegiatan organisasi mereka juga tidak kalah padat dengan berbagai rapat, konsolidasi tim, turun ke desa binaan dll. Namun, sebagai santri tetap harus semangat untuk belajar dan mendalami pengetahuan keislaman. Hal tersebut menjadi konsekuensi sekaligus tantangan bagi mereka agar mampu mengatur waktu secara proporsional. Maka melalui agenda qur’an ini diharapkan agar santri memiliki kesungguhan untuk tetap mengejar target qur’an di kesehariannya meskipun dengan segudang aktivitas yang dijalankannya. 


    Dalam Yaum Ma’al Qur’an kali ini, tidak ada target secara kuantitatif berapa jumlah hafalan yang disetorkan. Para santri hanya diwajibkan untuk memaksimalkan waktunya dari pagi ba’da subuh hingga malam hari pukul 21.00 dan dilaporkan pencapaian hariannya kepada pemandu. Jeda waktu hanya digunakan untuk ishoma dan bersih-bersih. Selain itu, para santri juga tidak diperkenankan memegang gadget di luar jam-jam tersebut kecuali dengan izin. Meminimalisir penggunaan gadget bisa berefek secara positif. Selain melepas ketergantungan, hal tersebut juga melatih pembiasaan diri agar waktu-waktu yang tersedia lebih produktif dan barokah. 


Untuk pembelajaran tahsin, dilakukan dengan talaqqi secara bergantian. Apabila memiliki tekad menjadi penghafal qur’an, maka kemampuan membaca dengan makharijul huruf dan kaidah tajwid yang benar pun sangat dibutuhkan. Oleh karena itu tahsin menjadi salah satu kurikulum prioritas bagi santri. 




    Meskipun secara sistem memang tidak ada targetan khusus, namun setiap santri memiliki antusias dan tekad untuk mencapai sebanyak mungkin hafalan yang bisa didapatkan, tentu dengan target masing-masing. Agenda Yaum Ma’al Qur’an menjadi charge tersendiri agar ke depannya masing-masing santri memiliki semangat yang lebih dengan target qur’annya. Bukan hanya soal seberapa banyak yang bisa dihafal, namun lebih kepada bagaimana kita semua mampu memberikan prioritas waktu untuk qur’an di tengah padatnya aktivitas kita. Tentu dengan memberikan waktu khusus, bukan sisa. Bukankah sesuatu yang tidak sempat itu karena memang kita tidak menyempatkannya?  Terciptanya atmosfer qur’an setiap harinya adalah nikmat terbesar, karena dekat dengan qur’an adalah satu jalan agar selalu dekat denganNya  [Hanifa]

You can leave a response, or trackback from your own site.

1 Response to "Yaum Ma'al Al Qur'an"

  1. Masya Allah...

Posting Komentar

powered by PMDS | Darush Shalihat Media | Gubah by Ikhwah Media